Perjalanan Perumusan Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda





Sejarah

     Kongres pemuda pertama diadakan di Batavia (sekarang Jakarta), ibu kota Hindia Belanda pada tahun 1926. Kongres ini tidak menghasilkan keputusan resmi apapun, tetapi menyatakan sebuah gagasan Indonesia yang bersatu. Mimpi kemerdekaan Indonesia mengilhami semua pemuda Indonesia untuk menyatukan upaya mereka dalam memobilisasi organisasi pemuda ke dalam satu forum.[3] Ketika itu, situasinya tegang karena pemerintah kolonial Belanda baru saja menumpas pemberontakan dari kelompok komunis dan kelompok agama di CilegonBanten, dan Sumatera BaratWage Rudolf Supratman, pada saat itu juga menggubah dan merekam lagu "Indonesia" (cikal bakal lagu "Indonesia Raya") dengan bantuan Yo Kim Tjan, pemilik toko musik Populaire di Pasar Baru. Sebelumnya, WR Supratman meminta Firma Odeon (yang milik orang Belanda) dan Tio Tek Hong, pemilik toko vinil di Pasar Baru, untuk melakukan perekaman lagu tersebut, namun ditolak dengan alasan mereka takut pada pemerintah kolonial Belanda. Pada akhirnya lagu "Indonesia" direkam secara diam-diam di rumah Yo Kim Tjan di dekat Bilangan Gunung Sahari pada tahun 1927.[4]
     Pada bulan Oktober 1928, kongres pemuda Indonesia kedua diadakan di tiga lokasi. Sidang pertama diadakan pada tanggal 27 Oktober 1928 di gedung Katholieke Jongelingenbond, dengan harapan agar kongres tersebut dapat mengilhami rasa persatuan. Sidang kedua membahas isu-isu pendidikan dan diadakan di gedung Oost Java Bioscoop. Sidang ketiga sekaligus terakhir diadakan pada tanggal 28 Oktober di Jalan Kramat Raya No, 106, yang merupakan rumah milik Sie Kong Lian.[4] Acara ini ditutup dengan mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola, dan dinyanyikan oleh putri Haji Agus SalimTheodora Atia "Dolly" Salim, tetapi dimodifikasi sedikit agar tidak memprovokasi pemerintah kolonial Belanda.[5] Kongres kemudian ditutup dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda.

Rumusan dan isi

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Mohammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.[6] Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.[7]

Rumusan final untuk ketiga keputusan Sumpah Pemuda ditulis dalam ejaan van Ophuijsen sebagai berikut.

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Bunyi ketiga keputusan kongres dalam Ejaan Bahasa Indonesia (ejaan terbaru yang disempurnakan dan digunakan dimasa kini):

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.


Kongres pemuda

Kongres Pemuda I (30 April–2 Mei 1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan di Batavia. Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I dihadir oleh wakil organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong AmbonSekar RukunJong Islamieten BondStuderenden MinahassersJong Bataks Bond, dan Pemuda Kaum Theosofi. Kongres ini diketuai oleh Muhammad Tabrani.

Kongres Pemuda II (27–28 Oktober 1928)

Kongres kedua ini diselenggarakan selama dua hari. Ketua Kongres Pemuda II dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java). Kongres pemuda hari pertama diselenggarakan di gedung Katholikee Jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katolik). Hari kedua di gedung Oost Java (sekarang di Medan Merdeka Utara Nomor 14).

Ada pun tujuan kongres pemuda II (yang kemudian dikenal dengan tujuan Sumpah Pemuda) sebagai berikut

  • 1. Melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia
  • 2. Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia
  • 3. Memperkuat kesadaran kebangsaan indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia

Rapat ketiga di gedung Susunan Panitia Kongres Pemuda II adalah:

            

Fenomena yang terjadi 

Fenomena positif saat perumusan Sumpah Pemuda adalah munculnya semangat persatuan dan kebangsaan di kalangan pemuda Indonesia. Mereka sadar pentingnya bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan. Bahasa Indonesia dipakai sebagai alat pemersatu, sehingga berbagai suku bisa bersatu. Sumpah Pemuda juga membentuk identitas nasional dan memotivasi terbentuknya organisasi pemuda yang aktif memperjuangkan bangsa. Semua hal ini membuat perjuangan untuk kemerdekaan semakin kuat dan terarah.

Credit: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7000895/10-pengaruh-sumpah-pemuda-dalam-perjuangan-bangsa-indonesia

Dampak negatif dari perumusan Sumpah Pemuda bisa muncul jika nilai-nilai luhur dalam sumpah tersebut tidak dipahami dengan baik oleh masyarakat, yang bisa menyebabkan salah paham, konflik ideologi, fanatisme nasionalistik berlebihan, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas; masalah ini bukan berasal dari Sumpah Pemuda itu sendiri, melainkan dari cara orang mengartikan dan menerapkannya.​

Credit: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6357834/5-dampak-sumpah-pemuda-bagi-perjuangan-bangsa-indonesia

Pendapat

Menurut saya perumusan sumpah pemuda itu saya anggap sebagai momen penting yang menyatukan pemuda Indonesia dalam semangat persatuan, nasionalisme, dan identitas bangsa dengan bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Namun, ada kritik dari beberapa sejarawan yang menyebut perumusan tersebut sebagai rekayasa atau konstruksi sejarah, di mana istilah “Sumpah Pemuda” baru digunakan puluhan tahun setelah peristiwa asli, yang dianggap sebagai bentuk propaganda nasionalisme pascakemerdekaan. Ada juga pertanyaan mengenai keautentikan dan selektivitas narasi sejarah yang digunakan untuk membangun identitas bangsa, sehingga peringatan Sumpah Pemuda tetap relevan tapi perlu dilihat secara kritis dan mendalam.

Dokumentasi

1:



2: 

3:


4:



Pesan utama dalam perumusan Sumpah Pemuda adalah semangat persatuan di antara pemuda dari berbagai suku, agama, dan daerah di Indonesia untuk bersatu sebagai satu bangsa dengan satu tanah air dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Pesannya adalah pentingnya mengesampingkan perbedaan kedaerahan demi membangun identitas nasional yang kuat serta menegaskan tekad untuk meraih kemerdekaan dan menjaga persatuan. Sumpah Pemuda juga mengajarkan nilai toleransi, cinta tanah air, dan kerjasama dalam keberagaman, sehingga menjadi fondasi penting bagi perjuangan bangsa dan pembangunan masa depan Indonesia.





SEKIAN DAN TERIMA KASIH






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkenalan diri

Pengalaman Pribadi